Waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya paling takut bila ditunjuk menjadi petugas upacara bendera. Entah mengapa, hal itu paling saya takuti. Mungkin saat itu mental yang saya miliki sangat sedikit kurang memenuhi standar sehingga rasa percaya diri dapat dikalahkan dengan perasaan malu bila sudah berhadapan dengan orang banyak.
Pada awal bulan Agustus kira-kira tahun 1985, dimana saya pada saat itu duduk dibangku kelas empat. Pada bulan tersebut adalah kesempatan pertama bagi murid kelas empat untuk mengemban tugas upacara bendera. Biasanya tiga hari sebelum waktu upacara bendera tiba, baik siswa maupun siswi akan ditunjuk oleh seorang guru wali kelas untuk menjadi petugas upacara. Satu persatu wali kelas itu mengabsen nama-nama murid yang akan mendapat tugas upacara bendera. Dalam kesempatan itu, saya tak henti-hentinya berdo'a dalam hati agar nama saya tidak terdaftar sebagai petugas upacara. Dasar memang lagi sial, apa yang saya tidak inginkan itu akhirnya terjadi juga. Nama saya dipanggil oleh wali kelas yang berarti saya kebagian untuk menjadi petugas upacara.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya tidak habis-habisnya berpikir untuk mencari akal agar saya bisa terbebas dari tugas tersebut. Saking gemururhnya otak yang sedang berpikir keras, sampai-sampai beberapa teman seperjalanan menegur saya. Dia mengatakan kalau saya terlalu banyak melamun. Ini terjadi ketika mereka sedang memperdebatkan sesuatu dan masing-masing dari mereka meminta pendapat saya. Sementara saya sendiri lagi berpikir yang lain diluar dari pembicaraan mereka sehingga apa yang mereka sedang perdebatkan sama sekali saya tidak tahu.
Singkat cerita, tibalah saatnya hari yang telah ditentukan sebagai hari upacara bendera. Penyelenggaraan upacara adalah sekali dalam satu minggu yang jatuh setiap hari senin pagi. Seluruh murid dari kelas satu sampai kelas enam mulai berkumpul dihalaman sekolah dengan seragam putih-putih bak mutiara yang berkilau diterpa sinar mentari pagi. Para petugas upacara pun sudah bersiap-siap di posisinya masing-masing. Waktu sudah berjalan kira-kira sepuluh menit dari waktu yang telah ditentukan untuk melaksanakan upacara bendera. Sejauh itu upacara belum dilakukan padahal seharusnya sudah berjalan. Kenapa hal ini terjadi? Ini disebabkan satu dari petugas upacara tersebut belum hadir di tempat itu. Siapa orang nya yang belum hadir pada saat itu? Orangnya adalah saya. Ya, saya belum hadir di tempat itu karena saya sedang berada di dalam kelas. Saya sengaja merintih kesakitan manakala seorang guru datang ke ruangan kelas saya. Guru itu bertanya tentang keadaan saya karena dia mendengar saya merintih kesakitan. Setelah guru itu mengetahui keadaan saya, lalu beliau keluar dari ruangan kelas dan memberitahukan hal itu kepada wali kelas saya. Tiba-tiba saja pintu kelas ada yang membukanya dari luar. Dari balik pintu tersebut muncul seorang guru dan masuk menghampiri saya. Beliau adalah wali kelas saya. Kedatangan beliau saya sambut dengan rintihan rasa sakit. Setelah bertanya panjang lebar mengenai keadaan saya saat itu, kemudian beliau pun keluar dari ruangan kelas.
Selang beberapa menit beliau meninggalkan saya, tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari arah halaman sekolah. Suara itu adalah sebuah aba-aba dari komandan upacara yang sedang menyiapkan pasukannya untuk mengikuti upacara bendera. Mendengar upacara itu sudah dimulai, hati saya merasa gembira sekali karena dengan demikian berarti saya sudah terbebas dari tugas yang sempat membuat saya terus menerus memikirkannya. Mengapa saya bisa terbebas dari tugas tersebut? Ini semua karena akal-akalan saya. Saya telah berpura-pura kalau tangan sebelah kanan saya terluka dan membengkak. Saya katakan kepada guru yang menanyakan kepada saya kalau saya terluka dan mengalami pembengkakan pada tangan saya karena terjatuh dari sepeda. Guru itupun percaya sebab saya telah membalutkan seluruh tangan saya dengan kain pembalut yang sudah saya beri obat merah atau betadine sehingga terlihat bahwa tangan saya itu benar-benar terluka dan sedikit membengkak.Cara inilah yang saya lakukan pada saat itu agar saya terbebas dari tugas.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa kalau saya sudah setengah jam berada di dalam kelas. Dari halaman sekolah pun sudah terdengar aba-aba komandan upacara yang menandakan kalau upacara bendera telah selesai. Murid-murid sudah berhamburan satu persatu meninggalkan halaman sekolah untuk memasuki ruangan kelas masing-masing. Begitupun para guru dan petugas upacara mulai meninggalkan tempat.
SEKIAN......





